pembelajaran produktif merupakan ciri yang membedakan SMK dengan sekolah menengah lainnya



Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, keberhasilan pendidikan tidak terlepas dari Kurikulum dan Sistem Pendidikan yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 (Pasal 1), menjelaskan:

“Tujuan Pendidikan Nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat jasmani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis”.

Tujuan Pendidikan Nasional ini akan dapat terealisasi apabila pendidik dalam melaksanakan tugasnya tidak saja mencerdaskan siswa dari segi kognitif tetapi juga dari segi afektif dan psikomotor. Hal tersebut diterapkan untuk semua jenjang/tingkat pendidikan, begitu juga pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di SMK program-program pembelajaran diorganisasikan dalam bentuk komponen-komponen yang bersifat normatif, adaptif dan produktif.

 Pendidikan di SMK berfungsi sebagai penghasil tamatan yang memiliki kemampuan produktif dan memiliki berbagai keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki keunggulan sebagai penggerak pembangunan industri yang semakin kompetitif, serta mampu mengembangkan dirinya sendiri agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan masyarakat. Oleh karena itu pembelajaran produktif merupakan ciri yang membedakan SMK dengan sekolah menengah lainnya.

 Pembelajaran produktif merupakan proses pembelajaran keahlian atau keterampilan dalam bentuk praktek yang dirancang dan dilaksanakan, berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen. Proses pembelajaran ini membekali siswa dengan kompetensi yang sepadan dengan tuntutan dunia kerja, sekaligus menghasilkan produk barang atau jasa yang laku di jual.
Khusus pada Program Keahlian Teknik Mesin kompetensi-kompetensi yang diharapkan untuk dikuasai siswa sebagai Hasil Belajar Program Produktif adalah kompetensi yang berhubungan dengan proses mengoperasikan mesin (seperti mesin frais, mesin bubut, mesin gerinda, mesin skrap), melaksanakan pekerjaan las/mengelas (dasar ataupun lanjutan), kerja bangku, membaca/mempelajari dan membuat gambar, kemudian kompetensi tentang kesehatan dan keselamatan kerja, serta perawatan/pemeliharaan mesin.

Selain mempelajari kompetensi produktif di sekolah, untuk mendukung kurikulum di SMK setiap siswa diwajibkan juga melaksanakan sebuah bentuk pembelajaran bersama (magang) yakni di sekolah dan di industri, yang dikenal dengan istilah Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Fokus utama dari keberhasilan penyiapan calon tenaga kerja tersebut diwujudkan dalam suatu kegiatan praktek kerja yang dilaksanakan melalui kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerin). Pada pelaksanaan Prakerin ini siswa dituntut untuk dapat melakukan berbagai program yang sudah ditetapkan dan direncanakan sebelum siswa melakukan praktikum,  oleh karena itu, siswa tersebut dituntut agar bisa mempraktekkan ilmu pengetahuan yang didapatkan di sekolah, pada dunia nyata atau kenyataan kerja di industri tempat siswa melakukan program prakerin/magang tersebut.

Melalui survey awal yang dilakukan penulis ketika melaksanakan program Praktek Lapangan Kependidikan (PLK) telah dilakukan pada lima lokasi prakerin. Hasil sementara menunjukkan tiga dari lima lokasi siswa melakukan prakerin dengan baik, sedangkan dua lokasi lagi ditemukan berbagai masalah dalam melaksanakan praktek kerja industri, antara lain:
1.    Kurangnya penguasaan siswa terhadap ilmu bidang studi (teori penujang praktek).
2.    Kurang terampilnya siswa membaca gambar kerja/petunjuk kerja dan sejenisnya.
3.    Kurangnya produktifitas dan kecepatan kerja.
4.    Kurangnya kualitas hasil praktek dibandingkan dengan standar dan (tolok ukur) yang ditetapkan.
5.  Dalam prakerin idealnya diberikan latihan keterampilan sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, tetapi kenyataannya karena jumlah industri yang sangat terbatas maka sering terjadi apa yang didapat siswa tidak sesuai dengan kompetensi yang diharapkan.

R. Ibrahim dan Soedijarto dalam Salman Al Ghifari (2008 : 4) ini mengatakan bahwa:
 “Hasil belajar dapat dianggap tinggi mutunya apabila yang dimiliki berguna bagi perkembangan selanjutnya, baik dilembaga pendidikan yang lebih tinggi bagi mereka yang melanjutkan, maupun pada masyarakat kerja bagi mereka yang terjun kemasyarakat kerja.”

Pendapat R. Ibrahim dan Soedijarto ini menyatakan bahwa suatu keterampilan dan pengetahuan yang dikuasai siswa pada suatu tingkat pendidikan, sebagai salah satu hasil belajar dapat dikatakan baik atau bermutu tinggi, apabila pengetahuan yang dimilikinya dapat diaplikasikan dan dikembangkan pada tingkat pendidikan selanjutnya atau pada dunia kerja.

0 Response to " pembelajaran produktif merupakan ciri yang membedakan SMK dengan sekolah menengah lainnya"

Post a Comment

Postingan Populer

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 mastimon

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel infeed